Bagaimana The Devil Wears Prada Mendefinisikan Sebuah Era
Lebih dari satu dekade berlalu, pertentangan antara Miranda Priestly dan Andy Sachs masih mendikte bahasa budaya kita, saat para bintang orisinal bersiap untuk sekuel pada Mei 2026
Recommended Video
Saat The Devil Wears Prada memulai debutnya pada tahun 2006, film ini tampak seperti komedi sederhana tentang ketidaktahuan mode bagi orang asing di lingkungan baru. Namun, di balik permukaan mode kelas atas tersebut terdapat kritik tajam terhadap ambisi dan harga yang harus dibayar demi meraih keunggulan.
Film ini tetap menjadi ikon budaya. Warisannya akan semakin kokoh saat para penggemar menantikan perilisan bioskop The Devil Wears Prada 2, yang mempertemukan kembali Meryl Streep, Anne Hathaway, dan Emily Blunt untuk menavigasi lanskap media modern dengan dinamika kekuasaan yang telah bergeser.
Posisi film tersebut pada masa itu
Untuk memahami dampak film ini, Anda harus memahami tahun 2006, masa sebelum Instagram, TikTok, atau aplikasi media sosial apa pun, bahkan sebelum ponsel pintar. Saat itu, industri mode tidak terelakkan sebagaimana terlihat di kios majalah, perpustakaan, dan toko fisik.
Industri ini dibangun di atas fondasi eksklusivitas mutlak, di mana majalah cetak seperti Vogue menjadi penggerak budaya. Editor seperti Anna Wintour memegang tingkat kekuasaan terpusat yang tidak terkendali, yang hampir mustahil untuk ditiru di dunia yang mengutamakan digital saat ini.
Sebelum adanya media sosial, dalam film tersebut, Runway bertindak sebagai penjaga gerbang utama; persetujuannya sangat penting bagi visibilitas merek. Film ini menggambarkan era eksklusivitas di mana proses analog mendikte tren global, menetapkan media mode pertengahan 2000-an sebagai puncak otoritas budaya.
Monolog tersebut
Mungkin kontribusi film yang paling abadi bagi budaya adalah “Monolog Cerulean”. Saat Miranda Priestly membedah “sweter biru lusuh” Andy, ia memberikan pelajaran berharga tentang tangan kapitalisme dan desain yang tidak terlihat.
Adegan ini mengubah pemahaman publik tentang mode dari sekadar hobi yang remeh menjadi sebuah mesin besar yang saling terhubung. Hal ini mengajarkan seluruh generasi bahwa meskipun Anda merasa berada di atas tren, Anda tetap beroperasi di dalam sistem yang dirancang oleh orang lain.
Istilah “Cerulean” juga menjadi singkatan untuk efek tetesan pengaruh, dan monolog tersebut sering dikutip di sekolah pemasaran dan desain untuk menjelaskan siklus hidup suatu produk.
Membentuk ambisi
Miranda Priestly adalah arketipe utama dari CEO yang tidak kenal kompromi. Dalam dunia sinematik yang sering kali bersikeras bahwa wanita di tempat kerja harus digambarkan melalui sudut pandang domestik atau minat romantis, Miranda adalah sebuah pencerahan karena ia murni seorang bos.
Film ini menyoroti standar ganda yang jelas: ketegasan dan jarak emosional yang sama yang membuat seorang eksekutif pria dianggap sebagai visioner, justru digunakan untuk menggambarkan Miranda sebagai penjahat.
Melalui alur cerita Andy, kita melihat realitas budaya kerja keras yang akan mendefinisikan tahun 2010-an, gagasan bahwa untuk menjadi yang terbaik, Anda harus bersedia bekerja lebih keras, berpikir lebih tajam, dan sesekali mengungguli semua orang di ruangan tersebut.
Warisan
The Devil Wears Prada berhasil karena menghargai kerja keras sambil memperlakukan industri mode bukan sebagai lelucon, melainkan sebagai medan pertempuran. Film ini memberikan izin bagi satu generasi untuk menjadi ambisius tanpa rasa bersalah, menawarkan cetak biru bagi siapa pun, pria maupun wanita, yang mencoba menavigasi lingkungan yang kejam di mana hasil adalah satu-satunya mata uang yang berlaku.
Apakah Anda sedang terobsesi dengan setelan jas yang sempurna untuk rapat dewan atau perlengkapan teknis yang tepat untuk sebuah proyek, film ini berbicara tentang dorongan universal untuk menguasai suatu keahlian dan mendapatkan tempat yang layak.
