Lupakan K-pop, Negara Asia Tenggara Ini Mendominasi Pekan Mode
Negara ini terus muncul sebagai pusat kekuatan budaya baru dalam dunia mode, didorong oleh gelombang aktor, desainer, dan perhatian global yang kian meningkat.
Recommended Video
Dari K-wave ke T-wave
Pergeseran pusat gravitasi mode menjadi semakin sulit untuk diabaikan. Selama lebih dari satu dekade, Korea Selatan menentukan kontur kekuatan lunak (soft power) Asia, dengan mengekspor tidak hanya musik dan televisi, tetapi juga model pengaruh budaya yang sangat efektif.
“Hallyu” atau K-wave membentuk kembali selera global, menempatkan idola K-pop di barisan depan peragaan busana di Paris dan Milan, mengubah perawatan kulit menjadi industri mendunia, dan mengangkat Seoul menjadi ibu kota budaya dengan jangkauan global.
Dominasi tersebut kini mulai menunjukkan tanda-tanda ketegangan. Selama setahun terakhir, saturasi industri dan tekanan internal dalam sektor hiburan Korea Selatan terjadi bersamaan dengan perlambatan keterlibatan global yang terukur. Perubahan ini terlihat dalam data dan komposisi audiens mode yang paling berpengaruh.
Thailand melangkah ke pusat perhatian
Thailand muncul sebagai penerima manfaat utama dari pergeseran ini. Pada peragaan busana FW26, selebritas Thailand, terutama aktor televisi, memberikan beberapa metrik performa terkuat di berbagai rumah mode mewah utama.
Apo Nattawin, Mile Phakphum, Jeff Satur, BamBam, Fourth Nattawat, Bible Wichapas, Win Metawin, PP Krit Amnuaydechkorn, dan Bright Vachirawit telah menjadi sosok yang semakin sering terlihat di berbagai acara mode global, yang memperkuat jejak budaya negara tersebut yang kian meluas.
BACA JUGA: Apo Nattawin dan Mile Phakphum: Supernova Thailand
Hal yang membedakan tokoh-tokoh Thailand ini adalah visibilitas dan kedalaman keterlibatan mereka. Dibandingkan dengan selebritas yang berbasis musik, audiens mereka menunjukkan tingkat interaksi yang lebih tinggi, yang menunjukkan bentuk pengaruh yang lebih berkelanjutan dan responsif.
Peringkat sosial kini menempatkan aktor Thailand sejajar dengan, dan dalam beberapa kasus melampaui, nama-nama global yang sudah mapan seperti Jennie dari BLACKPINK dan Felix dari Stray Kids.
Lebih dari sekadar selebritas
Pergeseran ini meluas melampaui kehadiran selebritas. Desainer dan profesional kreatif Thailand mulai mendapatkan tempat di tingkat internasional, didukung oleh pasar domestik yang berkembang pesat.
Sektor e-commerce mode Thailand diproyeksikan mencapai $276,4 miliar, dengan hubungan pendapatan yang kuat ke Tiongkok. Pada tahun 2029, jumlah pengguna yang terlibat dalam pasar mode Thailand diperkirakan akan mencapai 18,1 juta. Inisiatif industri, termasuk acara di New York, dirancang untuk lebih memposisikan desainer Thailand dalam jaringan komersial global.
Kekuatan lunak sebagai kebijakan ekonomi
Kebijakan pemerintah memainkan peran sentral dalam transformasi ini. Di tengah ketidakpastian ekonomi pada tahun 2024, Thailand telah meningkatkan investasi dalam industri budaya, mengidentifikasi kekuatan lunak sebagai pendorong pertumbuhan jangka panjang.
Di bawah Perdana Menteri Srettha Thavisin, pemerintah telah menguraikan rencana untuk menciptakan 20 juta lapangan kerja dan menghasilkan pendapatan tahunan sekitar 4 triliun baht, dengan 5,1 miliar baht dialokasikan di berbagai sektor seperti mode, makanan, olahraga, dan festival.
Namun, skala ambisi ini telah menimbulkan pertanyaan tentang pelaksanaannya. Program-program seperti “One Family One Soft Power,” yang bertujuan untuk melatih jutaan warga negara sebagai duta budaya, berisiko melampaui batas kemampuan tanpa kerangka kerja implementasi yang jelas atau prioritas yang ditentukan.
Mode sebagai sinyal ambisi global
Di tingkat mode, semakin pentingnya peran negara ini sudah terlihat jelas. Di Bangkok, “Gold House” milik Dior, sebuah toko konsep yang menampilkan fasad dengan 300 jendela berlapis emas, menandai meningkatnya kepercayaan terhadap Thailand sebagai pasar bernilai tinggi.
Para analis mendeskripsikan negara ini sebagai penerus potensial bagi pengaruh budaya Korea, meskipun belum menyamai skala penuh atau integrasi strategis K-wave, terutama dalam kaitannya dengan konsumen Tiongkok.
Posisi Thailand masih dalam masa transisi. Perhatian sangat tinggi, dan metrik menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan, namun keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada kemampuan negara tersebut untuk menyelaraskan kebijakan, industri, dan produksi budaya.
Untuk saat ini, momentumnya sudah jelas. Apa yang disebut sebagai “T-wave” mulai mendapatkan tempat, dan dampaknya terhadap sistem mode global sudah mulai terasa.

