Kaos grafis kembali menjadi tren mode Musim ini.
Cetakan grafis muncul sebagai pernyataan yang menentukan untuk musim gugur 2025, ditata ulang oleh para desainer yang membawa relevansi baru pada salah satu siklus mode yang paling abadi.
Oleh Dayne Aduna
Kembalinya cetakan grafis di Musim Gugur/Dingin 2025
Cetakan grafis, yang dulunya dianggap sebagai penanda pemberontakan remaja atau nostalgia belanja di mal, kembali muncul di Musim Gugur/Dingin 2025 ini. Dari panggung peragaan busana Paris hingga rak-rak pengecer mode cepat, cetakan tebal dan kaos grafis sekali lagi menjadi item yang sedang tren. Ini menunjukkan bahwa dalam mode, tidak ada yang benar-benar hilang; ia hanya menunggu kondisi budaya yang tepat untuk muncul kembali.
SELENGKAPNYA: Pinggang Berkerut Kembali ke Busana Pria untuk Musim Gugur/Dingin 2025
Sejarah kaos grafis bersifat pragmatis sekaligus politis. Iterasi awalnya sama sekali tidak dimaksudkan sebagai mode. Lahir sebagai kaus dalam selama perang dunia, pakaian ini polos dan fungsional, katun yang dimaksudkan untuk menyerap keringat di bawah seragam. Namun pada pertengahan abad ke-20, kekosongan itu menjadi sebuah peluang. Kaos sederhana, yang dulunya tidak terlihat, ditata ulang sebagai permukaan untuk visibilitas.
Kaos band
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, kaos grafis telah menjadi alat protes dan promosi. Para aktivis mencetak slogan di dada dengan huruf yang bersih dan tebal, mengubah pakaian menjadi manifesto berjalan. Pada saat yang sama, musisi menyadari kegunaannya sebagai barang dagangan. Band-band seperti The Rolling Stones, Nirvana, dan banyak lainnya mencetak nama dan logo mereka di kaos, menjual kesetiaan dengan harga kapas. Di sini, musik dan mode berinteraksi secara langsung: satu industri menghasilkan citra, yang lain menyediakan kanvas.
Di Inggris, kaos menjadi identik dengan punk, diasah menjadi senjata gaya oleh desainer seperti Vivienne Westwood. Kaos-kaosnya bersifat konfrontatif dan dirancang secara grafis untuk memprovokasi, untuk menandakan keanggotaan dalam subkultur yang berkembang pesat dalam perbedaan pendapat. Dari sana, makna pakaian itu terus bermutasi.
Gelombang komersial tahun 2000-an
Tahun 2000-an membawa gelombang desain grafis yang lebih komersial dalam mode. Dengan munculnya merek seperti Ed Hardy, kaos menjadi sangat terkait dengan estetika Y2K. Apa yang dulunya merupakan gerakan anti-kemapanan dengan visual terinspirasi tato yang terkait dengan punk dan subkultur ditata ulang sebagai komoditas arus utama, dijual di department store dan mal. Siklus dari pemberontakan-ke-mode-ke-komoditas telah lengkap.
Kini, dua dekade kemudian, siklus yang sama telah menegaskan kembali dirinya. Kebangkitan estetika Y2K dalam lima tahun terakhir telah membentuk kembali cara desainer berpikir tentang grafis. Logo dan cetakan bergambar tidak lagi terbatas pada pakaian jalanan atau ceruk subkultur; mereka muncul dalam koleksi musiman oleh rumah mode besar, ditafsirkan ulang dengan sentuhan modern. Apa yang dulunya merupakan sablon murah kini menjadi teknik tekstil mewah.
Sebuah pakaian yang mencerminkan budaya di sekitarnya
Kebangkitan ini juga mencerminkan dinamika budaya yang lebih luas. Kaos grafis menawarkan sesuatu yang taktil dan langsung: sebuah pesan yang secara harfiah dikenakan di dada. Bahasa grafis, baik yang bernuansa nostalgia, ironis, atau deklaratif secara tulus, terasa baru relevan di era ketika identitas dan afiliasi sekali lagi menjadi medan yang diperdebatkan.
Mengabaikan kembalinya cetakan grafis sebagai sekadar kebangkitan nostalgia lainnya berarti melewatkan resonansi yang lebih dalam. Sejarah pakaian ini adalah studi tentang bagaimana mode menyerap, mengkomodifikasi, dan menata ulang energi budaya: dari seragam perang hingga budaya protes, dari pemberontakan punk hingga konsumerisme mal, dari subkultur hingga panggung peragaan busana. Musim Gugur/Dingin 2025 hanyalah bab terbaru dalam kisah yang lebih panjang. Dan jika sejarah adalah panduan, kaos grafis akan terus kembali, setiap kali ditulis ulang dan setiap kali mencerminkan momen yang membawanya kembali.
Foto-foto milik Balenciaga, Isabel Marant, Vivienne Westwood, Dsquared2, Kolor
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kembalinya kaos grafis untuk FW25 adalah bagian dari pola siklus yang lebih panjang dalam mode — didorong oleh kebangkitan estetika Y2K yang berkelanjutan, minat baru pada gaya subkultur, dan rumah mode mewah besar yang menafsirkan ulang grafis sablon sebagai teknik tekstil kelas atas di panggung peragaan busana musiman.
Kaos grafis dimulai sebagai kaus dalam militer fungsional sebelum menjadi kanvas untuk protes politik dan merchandise band pada tahun 1960-an dan 1970-an. Desainer punk seperti Vivienne Westwood mengasahnya menjadi pakaian pernyataan, dan pada tahun 2000-an telah sepenuhnya diserap ke dalam mode komersial arus utama melalui label seperti Ed Hardy.
Desainer punk, terutama Vivienne Westwood, mengubah kaos grafis menjadi objek konfrontatif — disablon dengan citra provokatif yang dirancang untuk menandakan perbedaan pendapat dan keanggotaan subkultur. Tradisi menggunakan pakaian sebagai pernyataan yang mudah dibaca menjadi dasar bagaimana cetakan grafis telah ditafsirkan dalam mode sejak saat itu.
Kaos band muncul pada tahun 1960-an dan 1970-an sebagai merchandise untuk grup seperti The Rolling Stones dan Nirvana — pakaian yang menjual kesetiaan budaya dengan harga kapas. Kaos grafis yang lebih luas mencakup cetakan protes, kaos slogan, dan grafis desainer, tetapi kaos band tetap menjadi bentuknya yang paling abadi dan mudah dikenali secara komersial.
Untuk Musim Gugur/Dingin 2025, rumah mode termasuk Balenciaga, Isabel Marant, Vivienne Westwood, Dsquared2, dan Kolor telah menafsirkan ulang kaos grafis dengan teknik produksi kontemporer — mengangkat apa yang dulunya sablon murah menjadi tekstil mewah yang dipertimbangkan, menutup siklus dari subkultur ke panggung peragaan busana yang telah berulang kali diselesaikan oleh pakaian ini sejak pertengahan abad ke-20.

Dayne Aduna
Dayne Aduna is an Associate Editor at VMAN Southeast Asia, specializing in fashion, grooming, film, television, and contemporary pop culture. With a strong editorial focus on menswear, his work explores how style intersects with shifting cultural movements across Southeast Asia and beyond.
His expertise spans fashion journalism, celebrity profiling, grooming and skincare trends, fragrance, runway reporting, and cultural commentary, with a particular eye for emerging creatives and youth-driven style.
Dayne has written extensively on fashion houses, seasonal trends, designer collections, and the evolving image of the modern Southeast Asian man, bringing both editorial depth and cultural relevance to his coverage.
