Angga Yunanda Adalah Bintang Sinema Muda Berbakat Indonesia
Dengan lebih dari 11 juta pengikut dan wajahnya yang terpampang di berbagai mal di Jakarta, Angga sedang bertransformasi dari superstar Indonesia menjadi salah satu aktor paling memikat di Asia Tenggara.
Recommended Video
- Angga Yunanda adalah aktor Indonesia yang bertransisi dari ketenaran sinetron remaja menjadi tokoh terkemuka di sinema Asia Tenggara.
- Peran film terobosannya adalah dalam Dua Garis Biru (2019), yang memicu diskusi nasional dan meraih pengakuan penghargaan besar.
- Para Perasuk (Levitating) adalah film pilihan Sundance di mana ia berperan sebagai Bayu, seorang penjelajah roh yang menavigasi ritual trans dan ketidakstabilan emosional.
- Untuk peran tersebut, ia menjalani pelatihan fisik berbulan-bulan, termasuk latihan merangkak dan lokakarya penampilan berbasis gerakan.
- Gaya aktingnya didefinisikan oleh penampilan halus yang menekankan emosi internal daripada ekspresi dramatis yang terang-terangan.
Di balik kebangkitan bintang film global asal Indonesia
Berjalanlah cukup lama di mal-mal raksasa Jakarta, dan sosok Angga Yunanda pada akhirnya akan muncul di mana-mana.
Wajahnya terpampang di atas konter kosmetik dan layar LED raksasa sebagai duta Garnier Men. Drama-dramanya mendominasi tangga lagu platform streaming. Film-filmnya rutin menjadi tren daring dalam hitungan jam setelah dirilis.
Di Indonesia, di mana budaya selebritas bergerak dengan kecepatan yang luar biasa dan rentang perhatian menguap dalam semalam, Angga telah berhasil mencapai sesuatu yang jauh lebih sulit daripada sekadar viralitas: keberlangsungan.
Pada usia 25 tahun, ia menempati ruang yang langka dalam dunia hiburan Indonesia. Ia secara bersamaan menjadi idola arus utama, daya tarik box office, ikon mode dan perawatan diri, serta semakin diakui sebagai salah satu aktor muda paling dihormati di tanah air.
Apa yang dimulai dengan sinetron remaja seperti Malu-Malu Kucing dan Mermaid in Love telah berkembang menjadi karier yang kini membentang dari film-film komersial populer hingga sinema arthouse yang berlapis secara psikologis. Ia telah menjadi tipe aktor yang dipercaya oleh sutradara untuk membawakan materi emosional yang sulit, dan tipe selebritas yang dipercaya oleh merek untuk menjual aspirasi itu sendiri.
Dualitas itu penting. Dalam garis waktu yang lain, Angga bisa saja tetap aman berada di dalam mesin industri bintang remaja yang terpoles rapi. Sebaliknya, ia terus memilih proyek yang lebih asing, lebih berisiko, dan lebih menuntut secara emosional.
Film-film seperti Dua Garis Biru mengukuhkan dirinya sebagai aktor drama serius yang mampu membawakan salah satu film bertema pendewasaan yang paling signifikan secara budaya di Indonesia.
Kemudian hadir Para Perasuk (Levitating), sebuah karya surealis dari sutradara Wregas Bhanuteja yang tayang perdana di Sundance awal tahun ini, di mana Angga mentransformasi dirinya secara fisik dan emosional menjadi sesuatu yang liar dan hampir tidak dapat dikenali.
Bagaimana Para Perasuk mengubah pendekatan Angga dalam berakting
Untuk film tersebut, Angga menjalani lokakarya fisik selama berbulan-bulan yang berfokus pada gerakan dan ekspresi tubuh. Berbeda dengan proyek-proyek sebelumnya di mana dialog emosional sering kali menjadi tumpuan performanya, peran ini menuntut insting fisik.
“Dalam film-film saya sebelumnya, fokusnya biasanya lebih pada skenario dan emosi,” jelasnya. “Namun kali ini, hal itu dikombinasikan dengan latihan fisik yang sangat intens. Saya juga harus berlatih instrumen musik, jadi ada banyak lapisan yang harus dipersiapkan.”
Peran Bayu, seorang perantara roh muda yang menavigasi ketidakstabilan emosional, mengharuskannya untuk mewujudkan gerakan seperti kesurupan melalui latihan merangkak yang terinspirasi oleh roh lintah. Seiring berjalannya waktu, ia mulai merasakan karakter tersebut tidak lagi secara intelektual, melainkan secara fisik.
“Kami menjalani lokakarya selama lebih dari tiga bulan, dan setelah beberapa lama saya merasa tubuh saya bisa bergerak bebas tanpa perlu berpikir terlalu banyak terlebih dahulu,” katanya. “Biasanya kita berpikir sebelum bertindak, tetapi selama proses ini tubuh saya mulai memahami karakter tersebut secara alami.”
Produksinya sendiri sangat melelahkan secara fisik. Syuting sering kali dilakukan di medan yang kasar, mulai dari jalan aspal hingga kerikil dan lumpur, yang meninggalkan memar dan luka pada Angga selama proses pengambilan gambar.
“Tetapi bagi saya, semuanya terasa sepadan karena pengalaman yang saya bagikan dengan tim,” katanya.
Mengapa Angga percaya karakter sederhana adalah yang paling sulit untuk dimainkan
Meskipun Para Perasuk menuntut transformasi fisik yang ekstrem, sang aktor mengatakan bahwa karakter yang menahan emosi tetap menjadi peran tersulit yang pernah ia temui.
“Saya selalu merasa bahwa karakter yang terlihat biasa saja sebenarnya adalah yang paling sulit untuk dicapai karena mereka mengandung begitu banyak lapisan yang halus,” katanya.
“Terkadang ketika kita memiliki adegan yang lebih besar atau lebih dramatis, menjadi lebih mudah untuk mengekspresikan diri. Namun, memerankan sesuatu yang sederhana dan tulus secara meyakinkan jauh lebih menantang bagi saya.”
Hal ini telah membentuk sebagian besar filmografinya. Melalui proyek-proyek seperti Dua Garis Biru, Cinta Pertama, Kedua & Ketiga, dan Para Perasuk, Angga sering kali memerankan karakter yang memendam kesepian emosional di balik ketenangan lahiriah.
“Saya sering berakhir memerankan orang-orang yang terlihat kuat di luar tetapi sebenarnya rentan di dalam,” katanya. “Mungkin itu takdir.”
Dari Lombok ke Jakarta
Jauh sebelum menjadi salah satu aktor paling dikenal di Indonesia, Angga hanyalah seorang remaja yang tumbuh besar di Lombok dengan sedikit koneksi ke industri film.
“Ketika saya berusia 15 tahun, saya diundang untuk bergabung dalam sebuah proyek sinetron, dan sebelum itu saya tidak pernah memiliki ambisi untuk menjadi aktor,” katanya.
Pada saat itu, Jakarta terasa jauh baik secara geografis maupun profesional. Sebagian besar peluang di dunia hiburan Indonesia terkonsentrasi di ibu kota, membuat industri tersebut tampak sulit dijangkau dari Lombok.
Meski demikian, orang tuanya mendorongnya untuk mengambil kesempatan itu dengan serius. “Mereka memberi tahu saya bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali.”
Setelah memasuki industri melalui drama televisi, Angga secara bertahap membangun reputasi atas fleksibilitas emosional dan kesediaannya untuk bereksperimen secara kreatif. Seiring berjalannya waktu, katanya, ia jatuh cinta tidak hanya pada akting itu sendiri, tetapi juga pada sinema Indonesia secara lebih luas.
“Saya sangat bersyukur karena akhirnya dikelilingi oleh teman-teman luar biasa yang benar-benar mencintai film, terutama sinema Indonesia,” katanya. “Semangat mereka menjadi bagian dari api yang membuat saya tetap terhubung dengan industri ini.”
Generasi baru sinema Indonesia
Peran film yang melambungkan nama Angga datang melalui Dua Garis Biru, drama tahun 2019 karya Gina S. Noer yang mendapat pujian kritis, berpusat pada kehamilan remaja dan tekanan keluarga.
Film tersebut menjadi salah satu rilisan yang paling banyak dibicarakan di Indonesia tahun itu, memicu percakapan nasional seputar pendidikan seks sekaligus meraih kesuksesan kritis dan komersial. Penampilannya juga membuahkan nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik di Festival Film Indonesia.
Ia masih berbicara tentang Noer dengan penuh kekaguman. “Dia seorang perfeksionis,” katanya sambil tertawa mengenang proses audisi. “Saya harus menjalani beberapa kali casting untuk peran itu.”
Hal yang paling membekas baginya adalah kesadaran bahwa akting membutuhkan rasa ingin tahu yang tiada habisnya. “Begitu Anda berpikir Anda tahu segalanya, Anda selesai,” katanya.
Pola pikir itulah yang terus mendefinisikan cara ia menjalani kariernya saat ini. Bahkan setelah bertahun-tahun meraih kesuksesan, ia masih memandang dirinya sebagai aktor yang terus belajar melalui kolaborasi dan pengalaman hidup.
Dapatkah film Indonesia terhubung dengan penonton global?
Bagi Angga, penayangan perdana Para Perasuk di Sundance menjadi bukti bahwa penceritaan Indonesia dapat beresonansi secara internasional tanpa mengorbankan kekhasan budayanya.
“Saya sangat senang dan terkejut dengan respons dari penonton global,” katanya. “Meskipun banyak orang di sana tidak akrab dengan budaya Indonesia, mereka tetap terhubung secara emosional dengan film tersebut.”
Hal yang paling mengejutkannya adalah bagaimana rasa ingin tahu muncul setelah adanya koneksi emosional. “Mereka menjadi tertarik pada Indonesia setelah itu,” katanya. “Keunikan itulah yang justru menarik perhatian orang-orang.”
Sang aktor percaya bahwa banyak penonton internasional masih belum sepenuhnya melihat rentang dan kompleksitas emosional dari sinema Indonesia.
“Saya pikir penonton global masih belum sepenuhnya melihat betapa kaya dan kuatnya penceritaan Indonesia secara emosional,” katanya.
Bagaimana ketenaran, perawatan diri, dan citra publik menyatu dalam kehidupan Angga
Terlepas dari lintasan kariernya yang semakin mendunia, Angga tetap menjalani ketenaran dengan kepraktisan yang mengejutkan. Di Jakarta, ia mungkin menjadi wajah yang menatap dari kampanye kecantikan raksasa dan layar ritel mode, tetapi di luar kamera, hubungannya dengan perawatan diri dan citra selebritas tetap relatif bersahaja.
Kontras itulah yang membuatnya begitu memikat sebagai figur publik. Aktor yang mampu mengerahkan seluruh kemampuannya ke dalam pertunjukan yang intens secara psikologis dan produksi yang melelahkan secara fisik ini masih berbicara tentang perawatan kulit dengan kesederhanaan seseorang yang mendeskripsikan rutinitas rumah tangga sehari-hari.
“Saya sebenarnya orang yang sangat sederhana dalam hal perawatan kulit dan diri,” katanya. “Biasanya saya membersihkan wajah beberapa kali dengan micellar water, lalu mencucinya lagi dengan sabun wajah, dan terkadang saya juga menggunakan pelembap.”
Rutinitas keseluruhannya, jelasnya, tetap minimal dan personal meskipun visibilitasnya semakin meningkat sebagai duta merek dan figur publik.
Apa selanjutnya bagi Angga Yunanda?
Sang aktor mengatakan ia tetap tertarik untuk mengeksplorasi genre yang lebih gelap dan kompleks secara psikologis, terutama cerita-cerita thriller dan misteri yang memungkinkannya untuk melangkah lebih jauh secara emosional dan fisik sebagai seorang aktor.
“Saya merasa masih banyak karakter yang sangat ingin saya mainkan,” katanya. “Karakter yang penuh misteri atau ketegangan psikologis sangat menarik bagi saya.”
Ambisinya terasa tepat bagi seorang aktor yang kariernya semakin bergerak menuju kompleksitas emosional daripada zona nyaman.
Bahkan ketika status selebritasnya terus berkembang di seluruh Indonesia melalui film-film blockbuster, hit streaming, dan kampanye merek besar, Angga tampak kurang tertarik untuk mempertahankan citra yang tetap, melainkan lebih memilih untuk membongkarnya proyek demi proyek.
Untuk saat ini, lintasannya menunjukkan sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi dalam sinema Asia Tenggara itu sendiri. Aktor Indonesia tidak lagi terbatas pada pengakuan domestik semata.
Melalui proyek-proyek seperti Para Perasuk, Angga membantu memperkenalkan penceritaan Indonesia kepada khalayak internasional yang lebih luas sambil tetap terhubung secara mendalam dengan budaya lokal.
Pada usia 25 tahun, ia telah menjadi salah satu aktor muda yang mendefinisikan Indonesia, menyeimbangkan visibilitas blockbuster dengan ambisi artistik dengan cara yang jarang berhasil dilakukan oleh banyak penampil.
Dan di Jakarta, di mana wajahnya masih bersinar di layar mal raksasa di atas kerumunan orang yang lewat, transformasi itu sudah mustahil untuk dilewatkan.
Seorang aktor Indonesia yang bangkit dari sinetron remaja menjadi salah satu bintang film paling serbaguna di Asia Tenggara.
Dua Garis Biru, sebuah drama tahun 2019 yang memicu percakapan nasional di Indonesia dan memberinya pengakuan penghargaan besar.
Sebuah film pilihan Sundance di mana ia berperan sebagai penjelajah roh dalam komunitas berbasis ritual yang mengeksplorasi trans, kerasukan, dan psikologi.
Melalui pelatihan fisik berbulan-bulan, termasuk merangkak, lokakarya gerakan, dan belajar penampilan melalui tubuh.
Penampilan yang halus dan emosionalnya terkendali yang berfokus pada kerentanan internal daripada ekspresi dramatis.
Kepala Konten Editorial Patrick Ty
Fotografi Zaky Akbar
Pengarahan seni Mike Miguel
Mode Ivan Teguh Santoso
Editor Dayne aduna
Penataan Ryan ogilvy
Rambut Iwan Taufik
Asisten fotografi Ahmad Taufik Lubis
Terima kasih khusus Veronica Dieoni







