Dari Asia ke Dunia: Model yang Berjalan di Paris dan Milan FW26
Meningkatnya kehadiran model Asia di panggung mode internasional menunjukkan pergeseran yang berkelanjutan dalam cara mode global kini mendefinisikan visibilitas dan pengaruh
Recommended Video
Dari terobosan menjadi dasar
Selama Paris dan Milan FW26, wajah-wajah Asia sering muncul di panggung peragaan busana sehingga kehadiran mereka tidak lagi dianggap sebagai hal yang luar biasa. Model dari seluruh Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan membuka dan menutup pertunjukan, dan muncul kembali di seluruh koleksi. Apa yang dulunya akan dibingkai sebagai kemajuan kini terbaca sebagai hal yang normal.
BACA JUGA: Trendspotting: Semua Penampilan Terbaik dari Milan FW26
Representasi Asia di panggung mode global telah berkembang pesat dalam beberapa musim terakhir, melampaui era casting simbolis. Jika dulu mode mengandalkan ide kecantikan Asia yang sempit dan seringkali dapat dipertukarkan, musim ini mencerminkan jangkauan wajah, gaya, dan identitas yang lebih luas dan beragam.
Rumah mode besar memainkan peran penting dalam evolusi tersebut. Merek-merek seperti Dior, Prada, dan Saint Laurent kini sering menampilkan model dan selebriti Asia, terutama dari Korea Selatan, Jepang, Indonesia, dan Tiongkok.
Tidak lagi didefinisikan oleh narasi
Kehadiran mereka melampaui penampilan di panggung peragaan busana hingga tempat duduk barisan depan, kampanye, dan kemitraan merek jangka panjang. Strategi ini selaras dengan audiens yang lebih muda dan internasional yang terlibat dengan mode sebagai budaya daripada sekadar aspirasi.
Di seluruh Paris dan Milan, model-model Asia tidak terbatas pada siluet atau narasi tertentu. Mereka ditata dalam busana formal, busana malam, dan penampilan konseptual tanpa diposisikan sebagai hal baru.
Seorang model Tiongkok yang membuka pertunjukan atau wajah Indonesia yang kembali untuk beberapa penampilan berlalu tanpa komentar, yang menggarisbawahi seberapa jauh norma casting telah bergeser. Representasi, dalam konteks ini, tidak lagi membutuhkan penjelasan.
Normalisasi yang bermakna
Bagi banyak audiens, terutama para kreatif dan tokoh industri Asia, dampaknya sangat terasa. Melihat wajah-wajah yang dikenal menempati ruang yang dulunya mengecualikan mereka memiliki bobot, bahkan ketika industri itu sendiri memperlakukannya sebagai rutinitas.
Jika periode sebelumnya berfokus pada visibilitas, momen ini menunjukkan pergerakan menuju integrasi. Model-model Asia yang berjalan di Paris dan Milan musim ini adalah peserta dalam industri yang perlahan-lahan menyesuaikan citranya tentang untuk siapa mode itu dan oleh siapa mode itu dibentuk.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Representasi model Asia di pekan mode Paris dan Milan telah bergeser dari pemilihan model simbolis menuju inklusi yang dinormalisasi. Selama FW26, model dari Asia Timur, Tenggara, dan Selatan membuka dan menutup peragaan busana di berbagai rumah mode besar, tampil dalam berbagai tampilan, dan ditata dalam koleksi busana siap pakai, busana malam, dan konseptual tanpa pembingkaian sebagai hal baru.
Merek-merek termasuk Dior, Prada, dan Saint Laurent secara konsisten menampilkan model dan selebriti Asia dalam beberapa musim terakhir, khususnya dari Korea Selatan, Jepang, Indonesia, dan Tiongkok. Kehadiran mereka kini meluas melampaui penampilan di peragaan busana hingga tempat duduk barisan depan, kampanye, dan kemitraan duta merek jangka panjang.
Normalisasi dalam konteks ini berarti model Asia dipilih untuk berbagai tampilan dan siluet tanpa diposisikan sebagai hal baru atau gestur simbolis. Di Paris dan Milan FW26, seorang model Tiongkok yang membuka peragaan busana atau wajah Indonesia yang menutup koleksi berlalu tanpa komentar editorial — diperlakukan sebagai standar industri daripada sebuah kemajuan.
Representasi Asia di peragaan busana global menandakan pergeseran yang lebih luas dalam cara mode mendefinisikan audiensnya. Seiring rumah mode besar menyelaraskan diri dengan basis konsumen yang lebih muda dan terlibat secara internasional, pemilihan model yang beragam telah menjadi pernyataan budaya sekaligus strategi komersial — mencerminkan siapa yang semakin membentuk dan menjadi target mode.
Model Asia Tenggara termasuk di antara mereka yang secara rutin tampil di Paris dan Milan FW26, dengan wajah-wajah Indonesia disebut-sebut kembali untuk berbagai tampilan dalam koleksi tunggal. Kehadiran mereka merupakan bagian dari pola yang lebih luas di mana model Asia dari seluruh wilayah diintegrasikan ke dalam peragaan busana di rumah mode besar.














