Suasana baru mode adalah romantisme di panggung peragaan busana
Mode telah berubah menjadi lembut secara tak terduga musim ini, menukarkan sensualitas yang tajam dengan sutra, beludru, dan suasana romantis
Oleh Dayne Aduna
Bagaimana tekstur dan romantisme mendefinisikan ulang panggung peragaan busana
Akhir-akhir ini, mode sedang dalam suasana cinta.
Ini belum musim Valentine, tetapi para desainer telah mulai melakukan pemberontakan terhadap tontonan yang sarat seks yang telah mendefinisikan tahun-tahun terakhir. Di mana kulit telanjang, siluet keras, dan sensualitas yang berani pernah mendominasi, bahasa yang lebih lembut mulai muncul: sutra dan beludru alih-alih vinil dan kulit, renda alih-alih lateks, bros alih-alih rantai.


Inti dari perubahan ini adalah tekstur. Kain yang secara tradisional dikaitkan dengan keintiman, seperti beludru, satin, dan sifon, telah muncul di berbagai koleksi, digunakan sebagai pernyataan tersendiri. Kravat telah muncul kembali, diikat dengan santai, sementara kerah jatuh lebih tidak terstruktur, mengundang sentuhan. Bunga, yang dijahit pada jaket atau disematkan di dada, mengingatkan pada era ketika mode berbicara dalam bahasa pengabdian. Detail-detail ini tidak begitu menggoda melainkan mengakui, yang mungkin merupakan bagian paling mengejutkan dari semuanya.
TERKAIT: 5 aksesori yang menentukan atau merusak setelan jas
Mengenakan hati secara terbuka


Untuk industri yang begitu fasih dalam tontonan, mengapa beralih ke kelembutan sekarang? Sebagian jawabannya mungkin terletak pada kelelahan. Mode telah lama didorong oleh ekonomi visual kejutan, dengan seks digunakan sebagai jalan pintas untuk relevansi. Namun, musim-musim erotisme berkilau tinggi mulai terasa dapat diprediksi, bahkan mekanis. Beralih ke romantisme bukan hanya penyesuaian gaya, tetapi sebuah strategi: kelembutan yang diubah menjadi bentuk gangguan baru.
Ini juga merupakan cerminan dari suasana budaya yang lebih luas. Setelah bertahun-tahun volatilitas yang ditandai oleh pandemi, krisis politik, dan ketakutan lingkungan, gagasan cinta sebagai estetika terasa menenangkan sekaligus sedikit utopis. Para desainer tampaknya bertanya apa artinya kembali ke mode sebagai isyarat keterbukaan. Bagaimana jika kerentanan itu sendiri bisa ditata?


Pada akhirnya, suasana cinta yang baru menunjukkan sesuatu yang berarti: penampilan paling berani saat ini bukanlah yang paling banyak memperlihatkan kulit, melainkan yang bersedia mengenakan hatinya secara terbuka, dijahit dengan renda, disematkan dengan mawar, atau dibalut beludru.
Foto milik Dries van Noten, Simone Rocha, Willy Chavarria, Dolce&Gabbana, Dior
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Para desainer mengganti tampilan kulit terbuka, siluet kaku, dan sensualitas yang mencolok dengan bahan-bahan yang lebih lembut seperti beludru, satin, dan sifon, beserta detail seperti bros, kravat, dan bunga yang membangkitkan keintiman alih-alih sekadar tontonan.
Musim-musim yang dibangun di atas erotisme yang mencolok mulai terasa membosankan dan mekanis. Beralih ke romantisme berfungsi sebagai strategi yang disengaja, menampilkan kembali kelembutan itu sendiri sebagai bentuk disrupsi baru di dalam industri ini.
Pergeseran ini mencerminkan suasana budaya yang lebih luas setelah bertahun-tahun pandemi, krisis politik, dan kecemasan lingkungan. Cinta sebagai sebuah estetika menawarkan rasa nyaman dan idealisme yang kontras dengan gejolak akhir-akhir ini.
Tren ini lebih mengutamakan beludru, satin, sifon, dan renda dibandingkan vinil dan kulit. Detail yang sering muncul meliputi kravat yang diikat longgar, kerah dengan struktur lembut, serta bunga yang dijahit pada jaket atau disematkan di dada.
Romantisme merupakan pergeseran di seluruh industri dan tidak terbatas pada satu kategori saja, dengan bahan dan detail seperti kravat dan bros yang muncul di berbagai koleksi alih-alih diposisikan secara eksklusif sebagai maskulin atau feminin.

Dayne Aduna
Dayne Aduna is an Associate Editor at VMAN Southeast Asia, specializing in fashion, grooming, film, television, and contemporary pop culture. With a strong editorial focus on menswear, his work explores how style intersects with shifting cultural movements across Southeast Asia and beyond.
His expertise spans fashion journalism, celebrity profiling, grooming and skincare trends, fragrance, runway reporting, and cultural commentary, with a particular eye for emerging creatives and youth-driven style.
Dayne has written extensively on fashion houses, seasonal trends, designer collections, and the evolving image of the modern Southeast Asian man, bringing both editorial depth and cultural relevance to his coverage.
