Konklaf Nyata Vatikan: Apakah Paus Berikutnya Sudah Dipilih?
Film ini dimaksudkan sebagai fiksi, tetapi dengan Paus Fransiskus yang telah wafat dan Vatikan diam-diam mempersiapkan apa yang akan terjadi selanjutnya, tiba-tiba terasa seperti sekilas melihat sesuatu yang jauh lebih nyata.
Konklaf yang mengancam
Ada sesuatu yang mengganggu saat menonton film yang terasa seperti ditulis untuk momen persis yang sedang Anda jalani.
Konklaf, thriller yang tegang dan intelektual yang diadaptasi dari novel Robert Harris, adalah tentang kekuasaan, ketidakpastian, dan manuver halus yang terjadi di ruangan-ruangan yang tidak pernah dilihat oleh dunia luar.
Yang membuatnya semakin mengusik ketika Anda mempertimbangkan keadaan Vatikan saat ini.
Paus Fransiskus telah wafat pada usia 88 tahun, setelah perjuangan panjang melawan pneumonia ganda. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kekosongan spiritual bagi jutaan umat Katolik di seluruh dunia tetapi juga memicu salah satu ritual paling rahasia dan penting dalam agama global: konklaf kepausan.
Percakapan tentang penerusnya, yang sebelumnya bersifat spekulatif, kini menjadi sorotan utama—dicetak di koran, dianalisis oleh orang dalam Vatikan, dibedah oleh umat beriman maupun yang tidak beriman. Perlombaan untuk memimpin Gereja Katolik, dalam arti tertentu, sudah dimulai.
Dan Konklaf, dengan pengkhianatan berlapisnya, aliansi yang rapuh, dan beban sejarah yang menekan setiap pilihan, tiba-tiba terasa kurang seperti fiksi dan lebih seperti cermin.
Siapa para calon utama?
Di antara calon utama potensial adalah Kardinal Luis Tagle dari Filipina, favorit di kalangan progresif yang melihatnya sebagai kelanjutan dari visi Paus Fransiskus untuk gereja yang lebih inklusif dan penuh kasih.
Sementara itu, faksi konservatif telah bersatu di belakang Kardinal Péter Erdő dari Hungaria, seorang ahli hukum kanon berpengalaman dengan pandangan yang lebih tradisionalis. Kardinal Matteo Zuppi dari Italia, yang dikenal karena diplomasi dan upaya perdamaiannya, juga muncul sebagai pesaing kuat.
Beban sejarah
Mungkin itu sebabnya film ini begitu kuat dirasakan oleh penonton muda.
Bagi generasi yang dibesarkan dengan sinisme politik, ketidakpercayaan terhadap institusi, dan kecurigaan umum terhadap orang-orang yang berkuasa, Konklaf kurang tentang kemegahan tradisi agama dan lebih tentang drama manusia dalam kepemimpinan.
Siapa yang berhak membuat keputusan yang membentuk dunia? Dan apa yang mereka korbankan di sepanjang jalan? Menggoda untuk memandang Vatikan sebagai peninggalan, sebuah institusi yang terlalu kuno untuk disentuh oleh arus modernitas. Tetapi kekuasaan tetaplah kekuasaan. Ia bergeser, ia terkonsolidasi, dan ia bergerak dengan cara yang dapat dirasakan meskipun tidak selalu dapat dilihat.
Dengan wafatnya Paus, sebuah konklaf akan segera dipanggil. Dan bukan hanya orang-orang yang taat yang akan menyaksikannya. Semua orang yang memahami bahwa kepemimpinan—kepemimpinan yang nyata dan abadi—adalah penting.
Bahwa pilihan-pilihan yang dibuat di balik pintu tertutup pada akhirnya akan menemukan jalan keluar ke tempat terbuka. Bahwa sejarah memiliki cara untuk mengulangi dirinya sendiri, baik di layar perak maupun di aula suci Kapel Sistina.
Hak atas foto milik IMDB
