Bagaimana SUOT Menerjemahkan Gaya Jalanan Jepang untuk Jalanan Filipina
Di tengah panas dan hiruk pikuk Metro Manila, SUOT mendefinisikan ulang pakaian jalanan dengan pakaian yang terasa senyaman dan semudah kehidupan yang mereka jalani
Sebuah merek Filipina yang berakar pada fungsi dan bentuk
Pakaian oversized telah menjadi siluet yang sedang tren saat ini, dengan kemeja longgar dan celana lebar yang mendefinisikan tampilan modern yang santai. Tren ini, yang dimulai di jalanan Tokyo, telah menemukan energi baru di Metro Manila melalui SUOT, sebuah merek lokal yang menafsirkan ulang gaya jalanan Jepang untuk kota tropis.
Didirikan oleh desainer yang berbasis di Antipolo, Karl Guerra, SUOT menciptakan karya yang sama-sama stylish dan fungsional, menerjemahkan pengaruh global menjadi sesuatu yang khas Filipina.
SUOT, yang berarti “untuk dipakai” dalam bahasa Filipina, menawarkan berbagai kebutuhan pokok sehari-hari yang dirancang dengan kepraktisan. Kemeja kancing boxy, celana lebar, dan topi bucket bergaya tulip membentuk dasar koleksinya. Identitas merek ini sederhana namun khas. Kemejanya mudah dikenali dari keliman bulat, bahu turun, dan saku dada tunggal.
“Kenyamanan dan kualitas. Itulah hal-hal yang mendefinisikan kami. ”
Minat Karl pada mode dimulai sejak sekolah menengah. Ketika ia tidak dapat menemukan pakaian yang persis ia inginkan, ia menjahitkannya. Ia mulai membagikan penampilannya secara daring, di mana teman-teman dan pengikutnya mendorongnya untuk membuatnya tersedia untuk umum. Minat itu akhirnya menjadi SUOT.
Setahun yang lalu, Karl meninggalkan pekerjaan tetapnya untuk mengejar merek ini secara penuh waktu. “Ini menarik dan menakutkan,” katanya. “Anda harus mengambil langkah pertama itu dan hanya berharap serta berdoa Anda melakukan hal yang benar.”
Terinspirasi oleh budaya Jepang dan hip-hop
Perjumpaan pertamanya dengan pakaian jalanan berasal dari sumber yang tidak terduga: anime. “Anime itu memiliki soundtrack yang sangat keren yang memadukan hip-hop Barat dan Jepang,” kenangnya. “Saya mulai mendengarkan Method Man dan The Game, dan kemudian secara alami mulai berpakaian seperti mereka.” Ketertarikan pada pakaian oversized itu terbawa ke dalam bahasa desainnya sendiri, di mana proporsi dan kenyamanan tetap menjadi inti.
Karl melihat pakaian jalanan sebagai bentuk ekspresi yang dimiliki semua orang. “Kita semua berjalan di jalan yang sama,” katanya. “Anda tidak harus berasal dari tempat atau budaya tertentu untuk memakainya. Pakaian jalanan harus dapat diakses.”
Ia percaya bahwa seiring dengan terus berkembangnya kancah kreatif Asia Tenggara, desainer lokal memiliki kesempatan untuk membentuk identitas visual mereka sendiri.
“Jepang terinspirasi oleh Barat tetapi menjadikannya milik mereka sendiri. Kita juga bisa melakukannya di sini. Saya telah melihatnya di Vietnam dan Thailand. Pada akhirnya, orang akan mencari inspirasi di Asia Tenggara. ”
Filosofi SUOT mencerminkan visi tersebut. Ini menolak eksklusivitas demi inklusivitas, menawarkan pakaian yang sesuai dengan berbagai bentuk, ukuran, dan gaya hidup. Desain Karl terasa mudah dan nyaman dipakai, dirancang untuk bergerak dan dipakai sehari-hari. Tujuannya adalah untuk melihat kelompok orang yang lebih beragam dari berbagai generasi dan batas negara mengenakan SUOT. “Saya ingin ini dapat diakses oleh semua orang.”
Masa depan pakaian jalanan Asia Tenggara
Bagi Karl, masa depan pakaian jalanan terletak pada evolusi. Ia percaya bahwa pakaian itu harus terus bergeser dan beradaptasi dengan lingkungannya. “Tidak harus menjadi satu hal,” katanya. “Ini terus berubah. Itulah yang membuatnya menarik.”
Dalam kata-katanya sendiri, SUOT tidak akan pernah berkompromi pada dua hal: kenyamanan dan kualitas. Keduanya tetap menjadi inti identitas merek dan janjinya kepada komunitasnya. “Kami akan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik,” kata Karl. “Tapi SUOT akan selalu menjadi SUOT.”
Pakaian jalanan di Filipina masih mencari suaranya, dan kepercayaan diri SUOT terasa seperti bagian dari cerita itu. Ini adalah cerminan dari apa yang terjadi ketika gaya global bertemu dengan kepekaan lokal.
Ketika ditanya apa yang ia inginkan agar pakaian jalanan Asia Tenggara perjuangkan, Karl berhenti sejenak dan tersenyum:
“Saya hanya ingin itu bangga pada dirinya sendiri. Jadilah diri sendiri. Itu saja. ”
SUOT adalah merek pakaian jalanan Filipina yang didirikan oleh Karl Guerra. Ini berfokus pada pakaian yang nyaman, inklusif gender, terinspirasi oleh gaya jalanan Jepang tetapi dibuat untuk iklim tropis Metro Manila.
SUOT menekankan kenyamanan, aksesibilitas, dan kesederhanaan, menawarkan kemeja boxy dan celana lebar yang sesuai untuk berbagai jenis tubuh. Merek ini memprioritaskan kualitas dan gerakan daripada desain yang didorong tren.
Karl Guerra memulai SUOT setelah membuat pakaian khusus untuk dirinya sendiri di sekolah menengah dan membagikan penampilannya secara daring. Permintaan dari teman-teman dan pengikut mendorongnya untuk secara resmi meluncurkan merek tersebut.
SUOT mengambil inspirasi dari pakaian jalanan Jepang, kepraktisan Filipina, dan budaya hip-hop. Setiap pakaian mencerminkan keseimbangan antara gaya dan fungsi yang cocok untuk dipakai sehari-hari.
Poin penting utamanya adalah merangkul siluet oversized untuk kenyamanan dan kepercayaan diri. Desain SUOT menunjukkan bahwa gaya bisa menjadi santai namun tetap membuat pernyataan yang kuat.
Fotografi Joseph Bermudez
Pengarahan seni Mike Miguel
Mode corven uy
Penataan rambut dan penampilan Jean Anganangan, Crish Marfil, Patricia Marcaida, and Dhanver Serrano (Nix Institute of Beauty)
Model Christian Bootle
Desain produksi Studio Tatin
Produksi Francis Vicente
Asisten fotografi Rojan Maguyon

