Satu Dekade di The Fields: Sorotan dari Wonderfruit 2025
Festival ini kembali untuk edisi kesepuluhnya, mengundang para peserta untuk melambat, terhubung, dan merasakan musik, seni, serta komunitas
Oleh Dayne Aduna
Recommended Video
Satu dekade penuh keajaiban
Wonderfruit 2025 membuka edisi kesepuluhnya dengan fokus yang diperbarui dan memposisikan festival sebagai ruang yang dibentuk oleh tujuannya.
Dimulai dengan ritual SWANG WAVE yang memandu para Wonderer ke The Fields saat matahari terbenam, momen pembukaan ini menetapkan ritme yang lebih lambat yang berlanjut sepanjang akhir pekan. Musik, seni, makanan, dan upacara berlangsung berdampingan, mendorong para peserta untuk bergerak dan berinteraksi dengan lingkungan sebagai bagian aktif dari pengalaman.
BACA SELENGKAPNYA: DEMAM FESTIVAL: MENGAPA ASIA TENGGARA TELAH MENJADI MEDAN SUBUR DUNIA UNTUK FESTIVAL


Ruang-ruang baru dan berkembang di seluruh area mencerminkan pendekatan ini. Baan Bardo muncul sebagai titik kumpul utama, menyelenggarakan ritual kontemplatif di siang hari dan pertunjukan imersif di malam hari.
Berakar pada budaya
Molam World memperkenalkan struktur permanen yang berakar pada arsitektur rakyat Isaan dan menggarisbawahi investasi jangka panjang festival dalam budaya dan komunitas lokal. Di tempat lain, Our Parkland menawarkan ruang tanpa program untuk beristirahat, sementara Wonder Kitchen dan Wandering Kitchen menekankan makanan sebagai bahasa bersama melalui hidangan komunal dan bahan-bahan yang dicari di alam.


Menandai satu dekade di The Fields, Wonderfruit 2025 mengedepankan nilai-nilai yang telah dikembangkannya secara konsisten selama bertahun-tahun. Praktik-praktik yang berpusat pada kesadaran, kolaborasi, dan kepedulian terjalin di seluruh program, mulai dari inisiatif penanaman pohon hingga ruang ramah keluarga dan pertemuan saat matahari terbit.
Hasilnya adalah sebuah festival yang membingkai keajaiban sebagai cara hidup, mengundang komunitasnya untuk membayangkan cara-cara kebersamaan yang lebih penuh perhatian dan terhubung.
Foto-foto milik Wonderfruit
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Wonderfruit adalah festival tahunan yang diadakan di The Fields, Thailand, menggabungkan musik, seni, makanan, dan upacara. Edisi 2025 menandai tahun kesepuluh festival ini, melanjutkan fokus pada kesadaran, komunitas, dan program yang berakar budaya di seluruh area.
SWANG WAVE adalah ritual pembukaan yang memandu pengunjung festival, yang dikenal sebagai Wonderers, memasuki The Fields saat matahari terbenam. Ritual ini menetapkan tempo yang lebih lambat untuk Wonderfruit 2025, menjadikan musik, seni, makanan, dan upacara sebagai bagian yang saling terkait dari pengalaman.
Molam World adalah struktur permanen yang dibangun berdasarkan arsitektur rakyat Isaan, mencerminkan investasi jangka panjang Wonderfruit dalam budaya dan komunitas lokal Thailand. Struktur ini menjadi jangkar program festival dalam warisan regional tertentu, bukan estetika festival yang umum.
Wonder Kitchen dan Wandering Kitchen membingkai makanan sebagai bahasa bersama di Wonderfruit, menawarkan hidangan komunal yang dibuat dari bahan-bahan yang dicari. Ruang-ruang ini menekankan makan bersama sebagai bagian dari fokus festival yang lebih luas pada koneksi dan kepedulian.
Program Wonderfruit berpusat pada kesadaran, kolaborasi, dan kepedulian, yang diekspresikan melalui inisiatif penanaman pohon, ruang ramah keluarga, dan pertemuan saat matahari terbit. Praktik-praktik ini menempatkan festival sebagai model untuk pertemuan yang penuh perhatian dan terhubung di Asia Tenggara.

Dayne Aduna
Dayne Aduna is an Associate Editor at VMAN Southeast Asia, specializing in fashion, grooming, film, television, and contemporary pop culture. With a strong editorial focus on menswear, his work explores how style intersects with shifting cultural movements across Southeast Asia and beyond.
His expertise spans fashion journalism, celebrity profiling, grooming and skincare trends, fragrance, runway reporting, and cultural commentary, with a particular eye for emerging creatives and youth-driven style.
Dayne has written extensively on fashion houses, seasonal trends, designer collections, and the evolving image of the modern Southeast Asian man, bringing both editorial depth and cultural relevance to his coverage.
