Hotel-hotel era kolonial Asia Tenggara ini menggabungkan sejarah dengan keramahtamahan.
Tengara budaya ini telah dipulihkan dan ditata ulang untuk audiens masa kini, menawarkan perjalanan melintasi ruang dan waktu bagi para pelancong.
Hotel mana saja di Asia Tenggara yang memiliki sejarah kaya?
Hotel-hotel era kolonial di seluruh Asia Tenggara adalah tengara arsitektur dan budaya—pengingat era yang telah berlalu yang menggabungkan pengaruh kekaisaran dengan keahlian lokal.
Akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 menyaksikan hotel-hotel ini menjamu tokoh politik berpengaruh, pengusaha, dan mereka yang mampu menikmati kemewahan waktu luang saat itu.
Saat ini, banyak dari bangunan ini telah dipulihkan dan ditata ulang untuk audiens kontemporer, menawarkan perjalanan melintasi ruang dan waktu bagi para pelancong. Sejarah terus hidup melalui ruang-ruang ini, menambah pengalaman keseluruhan.
Berikut adalah beberapa hotel di wilayah ini tempat sejarah, warisan, dan keramahtamahan berpadu:
METT Singapura (Singapura)
Terletak di jantung Fort Canning Park, yang dulunya merupakan situs untuk tanah kerajaan dan administrasi militer Inggris, METT Singapura memadukan pesona dunia lama dengan jiwa kontemporer. Hanya beberapa menit dari Orchard Road, hotel gaya hidup ini menampilkan arsitektur kolonial, langit-langit tinggi, dan halaman yang rimbun, membangkitkan sejarah sambil menawarkan kemewahan untuk selera modern.
Hotel Majestic Ho Chi Minh (Vietnam)
Dibangun pada tahun 1925 dengan gaya French Riviera, Hotel Majestic menyaksikan transformasi Ho Chi Minh sepanjang beberapa perang yang melanda kota itu.
Sebuah ikon arsitektur kolonial Vietnam, kini menyediakan akomodasi mewah dalam struktur yang membawa beban sejarah kaya negara itu.
Hotel Rex Ho Chi Minh (Vietnam)
Di jantung pusat kota Ho Chi Minh terdapat Hotel Rex. Awalnya dibangun sebagai dealer mobil dan garasi selama pemerintahan kolonial Prancis pada awal abad ke-20, bangunan ini mengalami beberapa transformasi—pusat perdagangan, kompleks bioskop, hingga menjadi hotel seperti sekarang.
Selama Perang Vietnam, Rex dikenal karena menjadi tuan rumah konferensi pers militer AS harian yang dikenal sebagai “Five O’Clock Follies” di bar atapnya, menjadikannya simbol sejarah perang dan pasca-kolonial kota itu. Saat ini, Rex mewakili perpaduan warisan dan kemewahan modern, dengan akomodasi, berbagai restoran dan bar, tempat acara, dan bar taman atap dengan pemandangan kota—semua sambil mempertahankan referensi ke akar arsitektur kolonialnya.
Mandarin Oriental Bangkok (Thailand)
Didirikan pada abad ke-19, hotel ini telah lama menjadi properti mewah ikonik era kolonial di Sungai Chao Phraya. Dengan Sayap Penulis aslinya dan kaitannya dengan masyarakat kelas atas kolonial dan pasca-kolonial, hotel ini tetap menjadi tolok ukur keramahtamahan warisan di Bangkok. Warisan hotel ini terletak pada kesinambungan layanan, arsitektur megah, dan relevansi budaya lintas era.
The Majestic Malacca (Malaysia)
Dibangun pada tahun 1929 sebagai rumah pribadi dengan gaya Straits Settlement, bangunan ini diubah pada tahun 1955 dan dipulihkan pada tahun 2008, kini sebagai The Majestic Malacca. Properti ini berdiri di sepanjang tepi Sungai Malaka, di dalam Zona Warisan UNESCO.
Arsitektur dan interior hotel ini mencerminkan lapisan multikultural dari lokasi tersebut—masa lalu kolonial dan perdagangannya. Saat ini, hotel ini menawarkan kemewahan warisan yang berakar pada tempat dan narasi.
Hotel Raffles (Singapura)
Didirikan pada tahun 1887 oleh Sarkies bersaudara, Hotel Raffles Singapura adalah salah satu hotel kolonial paling ikonik di wilayah ini. Arsitekturnya, Long Bar yang terkenal, dan interiornya yang terawat baik telah mengukuhkannya sebagai simbol kemewahan abadi di Asia Tenggara.
Sofitel Legend Metropole Hanoi (Vietnam)
Terletak di Kawasan Prancis Hanoi, hotel ini dibuka pada tahun 1901 selama era Indocina Prancis. Sepanjang sejarah panjangnya, hotel ini telah menjamu bangsawan, selebriti, dan pertemuan puncak internasional. Dipulihkan dan diberi merek sebagai “Legenda”, hotel ini memadukan keanggunan kolonial dengan kemewahan modern.
Hotel Settha Palace (Laos)
Dibangun pada awal tahun 1930-an sebagai kediaman kolonial Prancis, Settha Palace dipulihkan dan dibuka kembali pada tahun 1999. Dengan perabotan kayu mawar, lantai marmer, dan pesona dunia lama, hotel ini menawarkan suasana kolonial klasik di jantung Laos. Relevansinya muncul dari bagaimana hotel ini melestarikan warisan kolonial Laos yang lebih tenang dan kurang banyak dikunjungi, serta menawarkan pengalaman menginap yang mewah dan mendalam bagi para pelancong.
Hotel Majapahit Surabaya (Indonesia)
Awalnya bernama Oranje Hotel, Majapahit berdiri sebagai salah satu institusi mewah kolonial Indonesia. Dibangun pada tahun 1910, arsitektur, sejarah politik dan keramahtamahan, serta operasinya yang berkelanjutan hingga zaman modern menjadikannya bagian penting dalam warisan kemewahan era kolonial Indonesia.
