JF3 2025 Indonesia memperluas hubungan global, mendukung desainer generasi berikutnya
Festival mode terbesar di Indonesia menandai dekade ketiganya dengan tema baru, kemitraan global yang diperluas, dan fokus yang lebih kuat pada pembinaan desainer generasi berikutnya
Visi baru untuk mode Indonesia
Jakarta di bulan Juli bergerak dalam dua kecepatan: panasnya musim yang lambat dan laju kota yang semakin cepat bersiap untuk pertemuan mode paling ambisius tahun ini. Di koridor Summarecon Mall Kelapa Gading yang mengkilap, lampu sorot diuji, kain diuap, dan landasan pacu diukur hingga milimeter. JF3 Fashion Festival, yang kini memasuki dekade ketiganya, akan segera dimulai, dan tahun ini, taruhannya terasa berbeda.
Bertema Recrafted: Visi Baru, edisi 2025 mengajak para desainer untuk menafsirkan kembali tradisi sebagai fondasi inovasi, keberlanjutan, dan relevansi global. “Mode mencakup bahasa, warisan, etika, dan pengetahuan, dengan keahlian sebagai intinya. Agar tradisi tetap hidup, ia harus berevolusi,” kata Thresia Mareta, penasihat JF3 dan pendiri LAKON Indonesia.
Berlangsung di dua lokasi, JF3 2025 menampilkan 45 desainer dan merek, termasuk Howard Laurent, Adrie Basuki, Sofie, Hartono Gan, Ernesto Abram, dan LAKON Indonesia. Label kontemporer seperti Metamorph by Zack, Be Spoke, Brilianto, dan Future Loundry juga mempresentasikan koleksi.
BACA SELENGKAPNYA: Pria Berbusana Terbaik Jakarta telah memecahkan kodenya, inilah caranya
Memperluas jangkauan festival
Festival ini memperluas jejak globalnya dengan kemitraan internasional profil tinggi. Desainer Prancis Victor Clavelly, yang dikenal atas kolaborasinya dengan Rick Owens, Beyoncé, dan Katy Perry, meluncurkan proyek khusus dengan LAKON Indonesia. Desainer Prancis lainnya Solène Lescouët, Ornella Jude Ferrari, dan Louise Marcaud memamerkan koleksi bersama peserta ASEAN Fashion Designers Showcase dari Vietnam, Laos, dan Thailand. Korea Selatan bergabung untuk pertama kalinya dengan desainer Chung Hoon Choi, Lee Joon Bok, dan Baek Ju Hee.
Di luar panggung peragaan busana, JF3 terus berinvestasi dalam keberlanjutan jangka panjang industri. Niwasana oleh Fashion Village kembali ke Kelapa Gading, sementara Code Street oleh DRP Jakarta, sebuah festival streetwear dan budaya urban yang berasal dari Prancis, diselenggarakan di Serpong. Future Fashion Award yang baru diluncurkan memberikan pendanaan dan bimbingan kepada dua merek baru, sementara program Inkubator PINTU, di tahun keempatnya, terus mengembangkan talenta muda bekerja sama dengan Kedutaan Besar Prancis.
Fokus pada regenerasi
Menurut Ketua JF3 Soegianto Nagaria, dekade ketiga festival ini berfokus pada regenerasi industri. “Masa depan industri mode Indonesia berada di tangan kaum muda yang berani bermimpi, bereksperimen, dan melampaui batas,” katanya.
Diluncurkan pada tahun 2004, JF3 berkembang menjadi festival mode terbesar di Indonesia, didukung oleh pemerintah dan mitra industri. Dengan menggabungkan warisan budaya, kolaborasi internasional, dan pengembangan desainer, festival ini bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem mode global sambil membina generasi pemimpin kreatif berikutnya.
Foto-foto milik JF3 2025











