Mengapa Generasi Ini Beralih ke Alas Kaki Klasik
Melampaui gembar-gembor sepatu kets teknis, gaya busana modern mulai menemukan arahnya dalam daya tarik abadi kulit dan keahlian warisan
Recommended Video
Selama hampir satu dekade, fenomena ‘sneakerhead’ mendikte arah mode pria. Kolaborasi sepatu tinggi, sepatu ‘dad’ yang tebal, dan sepatu lari teknis berwarna neon mendominasi jalanan.
Namun baru-baru ini, pergeseran telah terjadi. Siluet yang didominasi busa dan pernah mendefinisikan semangat zaman kini dikesampingkan demi sesuatu yang lebih membumi. Dari kembalinya sepatu loafer bersol lug hingga daya tarik abadi sepatu bot Chelsea, pria kembali ke alas kaki yang lebih sederhana.
Keletihan siklus tren
Pendorong utama di balik kembalinya ke gaya klasik ini adalah kelelahan. Selama bertahun-tahun, mendapatkan sepasang sepatu yang diinginkan berarti harus melalui undian digital, platform penjualan kembali, dan harga yang melambung tinggi untuk bahan yang pada dasarnya adalah plastik dan jaring.
Sebaliknya, sepatu loafer kulit atau sepatu bot Goodyear-welted menawarkan keabadian. Nilainya tidak terikat pada warna edisi terbatas, melainkan pada kualitas kulit dan keahlian di balik pembuatannya. Ada preferensi yang berkembang untuk barang-barang yang menua bersama pemakainya, daripada barang-barang yang kehilangan relevansi dengan rilis berikutnya.
Fleksibilitas gaya ‘di antara’
Kebiasaan berbusana pasca-pandemi juga telah mengubah cara pria berpakaian. Kita sekarang berada di era berbusana hibrida, di mana pakaian kantor dan gaya santai menyatu menjadi satu seragam yang mudah disesuaikan.
Sepatu loafer berada tepat di tengah-tengah. Sepatu ini mudah berpindah antara formal dan kasual, menambahkan kesan berkelas pada sesuatu yang sederhana seperti jeans dan kaus putih.
Sepatu bot, dari Chelsea yang ramping hingga gaya kerja yang lebih tangguh, memberikan bobot dan struktur, seringkali menawarkan siluet yang lebih rapi daripada sepatu kets. Sepatu loafer kulit hitam, khususnya, berfungsi sebagai jalan pintas yang andal di berbagai suasana, dari pembukaan galeri hingga pertemuan bisnis hingga makan malam santai.
Estetika baru
Bersamaan dengan pergeseran ini adalah minat baru pada maskulinitas yang lebih membumi dan tradisional, seringkali dibingkai melalui gaya pakaian kerja atau warisan. Fokusnya condong ke arah utilitas dan umur panjang.
Ada kepuasan tertentu dalam mengenakan sepatu bot yang dibuat untuk bertahan satu dekade, atau sepatu loafer yang secara bertahap menyesuaikan diri dengan kaki.
Di dunia yang mengutamakan digital, alas kaki klasik menawarkan sesuatu yang taktil dan stabil. Daya tariknya terletak pada kesederhanaannya: potongan dasar, siluet minimal, dan rasa keabadian yang membedakannya dari siklus tren yang terus berputar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Pria mulai beralih dari undian digital siklus tren dan harga jual kembali yang melambung menuju loafer kulit serta sepatu bot welted yang menua bersama pemakainya dan mempertahankan nilai melalui keahlian pembuatan, bukan melalui skema warna edisi terbatas.
Loafer berada di titik tengah yang fungsional — sepatu ini bertransisi secara alami antara suasana formal dan kasual, memberikan kesan terencana pada pakaian dasar sehari-hari seperti jins dan kaus putih tanpa memerlukan penggantian pakaian secara keseluruhan.
Gaya berpakaian hibrida — di mana gaya kantor dan gaya luar jam kerja menyatu menjadi satu lemari pakaian yang adaptif — telah membuat alas kaki serbaguna seperti loafer dan sepatu bot Chelsea menjadi lebih praktis daripada sneaker khusus olahraga atau yang berdasarkan tren.
Goodyear welting adalah metode penjahitan yang menyatukan bagian atas, sol dalam, dan sol luar, sehingga memungkinkan sol untuk diganti. Hal ini menandakan keahlian pembuatan yang tahan lama, menjadikan sepatu bot yang dibuat dengan cara ini sebagai investasi yang awet, alih-alih sekadar pembelian musiman.
Kembalinya sepatu bot klasik dan loafer mencerminkan pergerakan yang lebih luas dalam gaya pria menuju utilitas, keabadian, dan kualitas taktil — produk yang dibuat untuk bertahan selama satu dekade, alih-alih kehilangan relevansinya saat peluncuran tren berikutnya.
