Mengapa Semua Orang Mulai dari Pedro Pascal hingga Troye Sivan Mengenakan Kaus Ini
Kaus putih sederhana, yang dikenakan tanpa upacara di akhir peragaan busana, telah menjadi bisikan paling mendesak dalam dunia mode untuk membela kehidupan trans
Momen tanpa naskah menjadi sebuah pesan
Kaus itu tidak ada di atas panggung peragaan busana. Tidak ada pengepasan di belakang panggung atau penata gaya yang sibuk merapikan kelimannya. Namun, kaus putih sederhana yang dikenakan Conner Ives saat ia melangkah keluar untuk memberikan penghormatan pasca-pertunjukan pada bulan Februari telah dengan cepat menjadi salah satu pakaian paling mencolok dan subversif tahun ini. Dengan huruf hitam tebal, kaus itu memuat tiga kata: “Protect The Dolls.” Itu bukan bagian dari koleksi Musim Gugur 2025 yang baru saja ia luncurkan. Sebaliknya, itu adalah sebuah keputusan—impulsif, mendesak, dan tepat.
Bagi orang awam, istilah “the dolls” mungkin terdengar sembrono, tetapi istilah tersebut membawa silsilah ketahanan dan kasih sayang. Berakar pada vernakular queer dan budaya ballroom, istilah ini merujuk pada wanita trans—mereka yang telah lama eksis baik di pusat maupun di pinggiran dunia mode, sekaligus menjadi inspirasi dan korbannya. Frasa tersebut, yang terpampang di bagian dada kaus Connor, berfungsi sebagai sebuah doa: mantra pelindung, bernada santai namun memiliki makna yang tajam.
Dalam minggu-minggu setelah pertunjukan, kaus tersebut—yang tidak resmi, tidak disetujui, dan tidak diiklankan—mulai beredar dengan kekuatan sebuah gerakan. Kaus itu sudah tidak ada dalam daftar menu namun sudah banyak diminati. Connor, yang model-model trans dan kolaboratornya lebih dari sekadar inspirasi melainkan kerabat, tidak berencana untuk memproduksinya untuk dijual. Namun permintaan, arus tak terkendali yang mendefinisikan mode kontemporer, melonjak melampaui estetika. Ia pun mengalah.
Dukungan tanpa mekanisme pemasaran
Kaus tersebut, yang kini telah habis terjual secara daring, telah menjadi daya tarik di kalangan selebritas. Pedro Pascal mengenakannya dua kali—sekali saat perayaan ulang tahun pribadinya yang ke-50 dan sekali lagi, di bawah lampu kilat kamera pada pemutaran perdana Thunderbolts* di London. Penampilan ganda tersebut bukan sekadar formalitas; saudara perempuannya, Lux Pascal, adalah seorang wanita trans yang vokal dan dikenal luas. Troye Sivan, yang lebih terbiasa dengan gaya minimalis daripada slogan, mengenakannya dengan penuh perhitungan saat penampilan Charli XCX di Coachella, sementara Addison Rae dan Tilda Swinton—ikon dari spektrum budaya yang berlawanan—juga tampil mengenakannya, menunjukkan bahwa pesan tersebut telah melampaui batas demografi sepenuhnya.
Bahwa hal ini beresonansi sekarang bukanlah suatu kebetulan. Munculnya kaus ini bertepatan dengan gelombang baru undang-undang anti-trans di Amerika Serikat, termasuk tindakan eksekutif oleh pemerintahan mereka yang bertujuan untuk menghapus identitas trans secara hukum. Dengan latar belakang seperti itu, tindakan mengenakan kaus menjadi lebih dari sekadar gaya berpakaian; itu menjadi sebuah strategi.
Meski demikian, Connor menolak bahasa perlawanan. Desainer kelahiran Amerika yang berbasis di London tersebut tidak berbicara tentang bahaya, melainkan tentang kekerabatan. Pernyataannya bukan merupakan alarm, melainkan bentuk kepedulian. Model-model yang ia sebut sebagai teman, para wanita yang menginspirasi karyanya, para “dolls” yang kecantikannya membentuk visinya—merekalah alasannya, bukan sekadar reaksi.
Tidak ada kaus gratis, hanya dukungan nyata
Yang terpenting, kaus-kaus tersebut tidak diberikan secara cuma-cuma. Connor mengonfirmasi di media sosial bahwa setiap selebritas membeli kaus mereka sendiri, sebuah gestur signifikan dalam industri di mana meminjam adalah norma dan pernyataan sering kali dikemas oleh humas. Hingga awal Mei, penjualan kaus tersebut telah mengumpulkan lebih dari $250.000 untuk Trans Lifeline, sebuah organisasi nirlaba yang menawarkan dukungan krisis dan bantuan langsung kepada orang-orang trans yang membutuhkan.
Jika sejarah mode dipenuhi dengan slogan-slogan kosong dan gerakan yang disalahgunakan, “Protect The Dolls” karya Connor adalah sesuatu yang berbeda—bukan sekadar kampanye melainkan sebuah sinyal, bukan sekadar produk melainkan sebuah tindakan yang berani. Bahwa kaus itu terlihat bagus adalah hal sekunder. Yang utama adalah pesan yang disampaikannya.
Foto atas izin Instagram dan Getty Images
