Bagaimana Kondisi Budaya Sneaker di Tahun 2026?
Budaya sneaker tidak lagi seperti dulu: euforia telah mendingin, model retro mendominasi, dan audiens baru mulai membentuk apa yang akan datang berikutnya
Era ketika Jordan menguasai pemberitaan
Air Jordan pernah mendominasi pemberitaan dengan cara yang jarang dilakukan oleh sneaker lainnya. Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, rilis seperti Jordan 1 “Bred” atau Jordan 11 bisa terjual habis dalam hitungan jam, dengan harga jual kembali yang sering kali naik dua atau tiga kali lipat dari harga ritel.
Antrean mengular di luar toko hingga beberapa blok, pendaftaran undian sangat kompetitif, dan forum-forum ramai dengan rumor serta bocoran. Memiliki sepasang sepatu tersebut membuat Anda sadar akan tren budaya sekaligus gaya pribadi.
Saat ini, tingkat euforia tersebut sudah jarang ditemukan. Jordan Retro terus terjual, tetapi kegilaannya telah mereda. Platform jual kembali kini melaporkan penjualan yang stabil tanpa volatilitas ekstrem seperti yang terlihat di pasar awal 2020-an. Nostalgia tetap menjadi faktor, tetapi rilis dramatis yang menghebohkan yang mendefinisikan era euforia tersebut tidak lagi menjadi norma.
Penurunan budaya yang didorong oleh euforia telah membentuk kembali pasar sneaker. Kolaborasi terbatas dan rilis yang terkontrol digunakan untuk memicu spekulasi dan persaingan. Bot, calo, dan lonjakan jual kembali memperkuat kesan kelangkaan. Kini, dengan pasokan yang lebih luas dan margin yang menyusut, pasar telah stabil, dan antisipasi terhadap rilis baru pun berkurang.
BACA JUGA: Carlo Aragon dalam Membangun Salomonology dan Gerakan Gaya Global
Bangkitnya fungsi dan desain sehari-hari
Pada saat yang sama, jenis sneaker yang diminati telah terdiversifikasi. ASICS Gel-1130, sepatu lari Brooks, Mizuno, Salomon, serta siluet ramping seperti adidas Tokyo dan Samba semuanya mengalami pertumbuhan.
Ini bukanlah rilis yang didorong oleh euforia, melainkan produk yang dicari karena desain, fungsionalitas, dan preferensi pribadi. Kenyamanan dan kecocokan semakin memengaruhi pembelian di samping eksklusivitas atau potensi investasi.
Merek-merek warisan masih memainkan peran sentral. Jordan 4 tetap populer lebih dari 40 tahun setelah debutnya, dan Kobe retro terjual secara konsisten. Namun, ketergantungan pada rilis retro menyoroti tantangan yang terus ada: pasar jarang melihat desain yang terasa benar-benar baru atau terobosan.
Kolaborasi yang dulunya mendobrak batasan desain, seperti SB Dunk awal, kini muncul secara sporadis, bukan lagi secara rutin.
Terbagi menjadi banyak komunitas
Budaya sneaker itu sendiri telah terfragmentasi. Tidak lagi ditentukan oleh satu komunitas dominan, kini budaya ini mencakup subkelompok yang berbeda: pembeli yang berfokus pada performa yang mencari sepatu basket atau lari, konsumen yang berorientasi pada mode yang tertarik pada siluet yang lebih ramping, kolektor yang mengejar warisan, dan pembeli kasual yang mengutamakan kenyamanan. Setiap kelompok berpartisipasi dalam budaya sneaker, tetapi dengan motivasi dan nilai yang berbeda.
Diversifikasi ini memiliki manfaat. Ketika Brooks atau Mizuno melihat lonjakan minat, atau ketika model sepatu lintas alam seperti Salomon XT-6 memuncaki tangga penjualan, hal itu menunjukkan bahwa pasar merespons fungsionalitas, bukan sekadar euforia.
Terlepas dari pergeseran ini, industri tetap berada dalam masa transisi. Merek masih mengandalkan nostalgia karena aman dan menguntungkan. Inovasi memang ada, tetapi terjadi secara tidak konsisten. Desain terobosan yang dapat mendefinisikan ulang tren lebih jarang terjadi dibandingkan era sebelumnya. Pasar telah mereda, tetapi keinginan untuk sneaker dengan desain yang baik tetap ada.
Melampaui euforia
Di tahun 2025, budaya sneaker tidaklah mati. Budaya ini kompleks dan terus berkembang. Euforia mungkin telah mendingin, tetapi performa, gaya hidup, retro, dan inovasi tetap berdampingan.
Pasar tidak lagi ditentukan oleh satu narasi tunggal, dan fragmentasi tersebut memungkinkan pertumbuhan serta kreativitas yang lebih berkelanjutan.
Budaya sneaker terus menjadi lebih dari sekadar sepatu. Ini adalah tentang cerita yang dibawa orang-orang, komunitas tempat mereka berpartisipasi, dan pilihan yang mereka buat dalam apa yang mereka kenakan. Budaya ini telah tumbuh melampaui masa lalunya yang didorong oleh euforia, dan dengan demikian, menjadi lebih mudah diakses dan lebih bervariasi.
Budaya sneaker telah bergeser dari rilis yang didorong oleh euforia ke pasar yang lebih beragam di mana performa, gaya hidup, dan nostalgia semuanya berdampingan.
Ya, Jordan retro tetap menjadi produk yang laris, tetapi tidak lagi menghasilkan euforia ekstrem atau harga jual kembali yang tinggi seperti pada awal 2010-an.
Sepatu lari gaya hidup dari ASICS, Brooks, Mizuno, dan Salomon, serta siluet ramping seperti adidas Tokyo dan Onitsuka Tiger, saat ini sedang populer.
Budaya euforia melambat karena pasokan yang lebih luas, margin jual kembali yang lebih rendah, dan pergeseran ke arah gaya pribadi serta fungsionalitas.
Ya, budaya sneaker berkembang pesat dengan cara yang lebih terfragmentasi, dengan berbagai subbudaya yang membentuk tren di luar sekadar nostalgia atau euforia.
