Klasik Amerika yang lembut memikat kancah hidangan penutup Singapura
Lembut, manis, dan lezat, puding pisang telah menyelinap ke kancah kafe Singapura, menjadi dambaan baru yang paling tidak terduga di kota ini.
Dari keingintahuan khusus hingga kegilaan budaya
Di kota yang dikenal dengan moderasi, di mana “tidak terlalu manis” adalah prinsip panduan dan hidangan penutup sering kali diimbangi dengan rasa pahit atau asin, munculnya puding pisang terasa hampir nakal. Klasik Amerika ini, dengan lapisan krim dan gula yang tanpa kompromi, telah muncul sebagai obsesi hidangan penutup terbaru Singapura.
Apa yang dimulai sebagai eksperimen di kafe-kafe independen pada awal tahun 2025 telah berubah menjadi dambaan nasional. Video sendok yang tenggelam ke dalam puding seperti awan kini memenuhi linimasa media sosial. Bahasa visual tren ini sederhana dan tak tertahankan: pisang yang dilipat ke dalam krim, wafer yang larut ke dalam kustar, dan tekstur yang tampak melayang antara padat dan mimpi.
Sebagian pesona hidangan penutup ini terletak pada kontradiksinya. Puding pisang tidaklah halus. Ia tidak mengandalkan rempah atau rasa pahit untuk mencapai kemewahan. Sebaliknya, ia memanjakan diri dalam kenikmatan indrawi gula dan krim, membangkitkan kenyamanan kue rumahan daripada patiseri mewah. Namun, kesederhanaannya justru beresonansi.
Berikut adalah empat tempat untuk menemukan puding pisang terbaik di Singapura saat ini, masing-masing menawarkan ekspresi berbeda dari hidangan yang sangat mudah disesuaikan ini.
1. Okieco
Lokasi: Gomgom, SUTD, 8 Somapah Road; Snappy Bowls, SMU, 90 Stamford Road
Yang paling mendekati pelopor tren puding di Singapura, Okieco mulai membuat puding pisang pada tahun 2020, bertahun-tahun sebelum ketenarannya saat ini. Resepnya, terinspirasi dari Magnolia Bakery di New York, disesuaikan untuk selera lokal: lebih ringan, tidak terlalu manis, dan dibuat sepenuhnya dari awal, termasuk wafer vanila. Tersedia dalam empat rasa (Klasik, Choc Fudge, Speculoos, dan Selai Kacang & Jeli), setiap pint terasa nostalgia namun khas Singapura.
2. Creamie Sippies
Lokasi: 31 Keong Saik Road; 7 Jalan Bukit Merah
Puding pisang versi kafe ini telah menjadi salah satu hidangan penutup paling fotogenik di kota ini. Mascarpone memberikan tekstur yang lebih kaya pada puding, sementara biskuit Biscoff yang dihancurkan menambah kerenyahan dan kontras. Latte puding pisang matcha yang populer, yang memadukan hidangan penutup ini dengan matcha Uji, telah menjadi simbol evolusi hibrida tren ini.
3. July’s Cloud
Lokasi: 01-23 joo Seng Green, 2 Upper aljunied Lane
July’s Cloud telah menyaring tren puding pisang ke dalam bentuknya yang paling sederhana dan mudah dijangkau. Setiap cangkir berisi lapisan pisang Cavendish segar, remahan Biscoff, dan krim lembut, semuanya dengan harga terjangkau untuk kenikmatan santai. Pilihan untuk menambahkannya ke latte matcha menjembatani dua obsesi paling abadi tahun ini dalam satu cangkir minimalis.
4. Two Bake Boys
Lokasi: 03-09/K2 Shaw plaza, 360 balestier road
Dikenal dengan kue crepe mereka, kafe Balestier ini mendekati puding pisang layaknya adibusana. Setiap rasa memiliki kepribadiannya sendiri, mulai dari tiramisu dan Biscoff hingga versi kunafa pistachio yang memanjakan, yang mencerminkan ketertarikan berkelanjutan tahun ini terhadap pengaruh Timur Tengah. Hasilnya adalah hidangan penutup yang terasa modern sekaligus sangat menenangkan.
Masa depan puding pisang di Singapura masih belum pasti. Seperti banyak tren makanan viral, ia bisa memudar secepat kemunculannya.
Untuk saat ini, manisnya dan teksturnya yang lembut telah memikat banyak warga Singapura dan pengunjung dari seluruh Asia. Jika Anda merencanakan perjalanan ke Singapura atau sudah dalam perjalanan, gunakan daftar ini dan coba tempat-tempat rekomendasi kami untuk puding pisang terbaik saat ini.
Puding pisang telah mendapatkan popularitas di Singapura karena teksturnya yang lembut, rasa nostalgia, dan daya tarik visual di media sosial. Manisnya yang menenangkan menawarkan kontras dengan preferensi umum negara ini untuk hidangan penutup yang “tidak terlalu manis”.
Tempat-tempat teratas meliputi Okieco, Creamie Sippies, Two Bake Boys, July’s Cloud, dan All Hands Cafe. Masing-masing menawarkan versi unik, mulai dari puding gaya Amerika klasik hingga versi yang diinfus matcha dan pandan.
Versi lokal umumnya lebih ringan dan tidak terlalu manis, disesuaikan dengan selera warga Singapura. Banyak yang dibuat dari awal dan menampilkan sentuhan kreatif seperti remahan Biscoff atau matcha untuk sentuhan lokal.
Meskipun beberapa melihatnya sebagai tren sesaat, yang lain percaya itu bisa menjadi hidangan penutup pokok. Perpaduan kenyamanan dan adaptabilitasnya memberikannya kekuatan untuk bertahan di kancah kafe Singapura.
Tekstur lembut hidangan penutup ini, rasa pisang yang akrab, dan manisnya yang mudah diterima menjadikannya nyaman sekaligus memanjakan.
Foto spanduk milik Eatbook

